Monday, 30 September 2013

Thomas Alfa Edison dan Sayur Asem

Akhir-akhir ini, salah satu grup whatsapp yang saya ikuti sering membahas soal makanan, diet, dan tentu saja agenda wajib per-bully-an antaranggota. Belakangan ini, satu kawan kami (Ajat) yang sedang kuliah di Australia sana gemar-gemarnya memasak dan memposting foto hasil masakannya. Bentuk-masakannya memang tampak menarik, tapi entah bagaimana rasanya. Kata si empunya sih, cukup kacau rasanya. Hahaha....  Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Bersamaan dengan Ajat yang sering posting foto hasil masakannya, kami para perempuan merasa tertantang untuk mulai rajin memasak lagi. Salah seorang kawan ((Reni) sudah berhasil membuat donat kentang pertamanya walaupun lebih tampak seperti roti goreng, tapi rasanya enak menurut pengakuannya. Saya? Masih setia membuat omelet demi omelet ala saya sendiri. Entah itu lebih mirip seperti telur dadar atau memang bisa dikatakan omelet, tidak penting. Yang pasti bentuknya enak dilihat dan rasanya pas di lidah. Hehehe.

Saya ingat, kemarin dulu ketika saya sedang gemar memasak, benda wajib yang harus ada di dapur selain peralatan masak adalah ponsel. Kenapa ponsel? Ponsel sangat membantu saya dalam proses memasak, dari mulai menyiapkan racikan sampai memperbaiki rasa masakan yang kacau. Tentu saja ponsel tersebut harus didukung oleh pulsa yang cukup untuk melakukan panggilan ke nomor Ibu dan teman-teman saya. Merekalah yang akan membantu mengarahkan saya tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya?

Jujur saja, antara kemiri, merica, dan ketumbar saya masih sering salah membedakan. Begitu pula dengan jahe, lengkuas, dan kunyit. Budhe penjual sayuran dekat kosan saya sepertinya sudah memaklumi hal ini sehingga Budhe sering membantu saya mengambilkan bumbu-bumbu dapur yang saya perlukan. Dalam proses memasaknya sendiri, saya melakukannya sambil menelepon siapapun yang bisa saya andalkan untuk mengarahkan saya. 

Saya suka sayur asem. Apalagi sayur asem disandingkan dengan tempe goreng dan sambal terasi. Nikmat tiada tara. Tapi sayangnya, saya belum berhasil membuat sayur asem yang enak dan pas di lidah. Bahkan untuk bisa disebut sayur asem saja, saya masih harus berjuang keras. #lebay.

#Percobaan 1:
Dengan sedikit pengarahan dari Umma-nya Aim dan Aira, dengan sangat percaya diri saya mulai meracik, memasukkan, dan mengaduk-aduk sayur asem. Tetapi, Saya terlalu banyak menakar air dan sayurannya pun saya rasa berlebihan sehingga porsi sayur asemnya kebanyakan. Ketika saya mencicipi rasanya..... OMG, hambaaaar sekali. Aneh. Saya langsung menelpon Umma Aim-Aira:

"Liaaaaa, sayur asem aku nggak ada rasanya. Mana bikinnya dalam porsi yang banyak. Hiks"... seketika saya merasa gagal membuat sayur asem sesuai harapan.

"Tambah terasi udang, coba" katanya,

Saya segera turun ke lantai bawah untuk membeli terasi di warung Ibu kost. Tanpa pikir panjang, setelah mendapat terasi langsung saya masukkan sedikit demi sedikit ke adonan sayur. Tapi tunggu, oooh tidaaaak. entah terasi macam apa yang saya beli, warnanya kemerahan dan rasanya aneh. Saya jadi teringan liputan Investigasi beberapa waktu lalu terkait terasi yang pembuatannya menggunakan pewarna. Aduh, saya jadi illfeel dengan adonan sayur asem saya yang menjelma kemerah-merahan.

Mission Failed. Saya buang semua sayuran saya dengan rasa kecewa.


#Percobaan 2:
Kali ini "persenjataan" saya cukup lengkap. Terasi udang yang cukup ber-merk sudah saya beli. Ibu kost mendapati saya membawa kantong plastik isi sayuran dan menanyakan saya akan memasak apa hari ini.

"Sayur asem Bu. Ibu kalau masak gimana bumbunya?" tanya saya berharap Ibu kost mau share tips memasak sayur asem yang benar.

"Ibu mah nggak ngeracik-racik bumbu, udah Eska beli aja ni bumbu instant sayur asem. Tinggal diaduk aja pake air" kata si Ibu sambil menunjuk bumbu instan di warungnya.

Saya berpikir... "Em.... kalau pakai bumbu instant kemungkinan memang rasanya lebih terjamin dan terstandar rasa sayur asemnya. Tapi koq ngga ada tantangannya ya... Ibaratnya ikut pertandingan sih menang Walk Out. Menang sebelum bertanding. Ngga seru ah"

Saya memutuskan tidak membeli bumbu instant, mau racik-racik bumbu sendiri saja. Sebelum memasak tentu saja saya berkomunikasi dulu dengan Umma Aim-Aira. Setelah yakin semua sudah Ok dan saya siap memasak, dengan percaya diri saya mulai memasak. Kemudian ketika hampir selesai:

"Liaaaaa.... sayur asem aku ngga ada rasanya lagi. Udah pake terasi padahal", teriak saya lewat telepon.

"Coba garam sama gula pasirnya ditambah, sedikit sedikit aja. Dimainin garam sama gulanya kalau kamu nggak mau pake bumbu masak", sahut suara di seberang sana.

Iya saya memang mencoba menghindari penggunaan perasa. Selain lebih sehat juga agar masakan saya menggunakan bumbu-bumbuan alami dan tanpa campuran bahan pengawet. Mencoba ideal dalam hal ini tidak salah toh.

Alhasil sayur asem buatan saya kali ini lumayan mirip dengan sayur asem yang saya harapkan walaupun tetaaap saja rasanya ada yang kurang pas. At least dari segi bentuk dan aromanya sudah lebih layak untuk dikatakan sebagai sayur asem. 


#Percobaan 3
Saya belum berani untuk mencobanya lagi, takut kecewa kalau kali ini rasanya tidak benar-benar enak. Kapan-kapan saja lah saya mencobanya. Kalau ada Thomas Alfa Edison di sini mungkin beliau akan berkata"

"Tenang Cha, masih ada 998 kesempatan lagi untuk bisa mendapat rasa sayur asem yang pas sesuai harapan" 

Hah? 998 percobaan lagi??!! !@#$%^&*())&^%$#@@

Sunday, 29 September 2013

Loyalitas di Balik Pintu Gerbang



Sebut saja namanya Pak Hasan. Beliau seorang yang berjasa menjaga keamanan indekos tempat saya tinggal. Beliau juga yang selalu menjamin kebersihan di tiap sudut ruangan indekos saya. Sudah seperti bapak yang menjaga anak-anak kost dan memenuhi keperluan kami  (saya dan teman-teman_red), terutama untuk keperluan yang tidak bisa kami tangani sendiri: genteng bocor, memasang pipa gas ke kompor, membetulkan keran air, mengangkat galon air mineral ke lantai atas, mengganti lampu yang mati, dan pekerjaan lainnya (kalau di rumah, saya selalu mengandalkan ayah saya mengerjakan hal-hal tersebut)


Sama seperti arti namanya, beliau sangat baik. Bahkan terlampau baik. Saya dan teman-teman saja yang agak badung. Kadang kami pulang larut malam untuk alasan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, atau hanya sekedar bermain-main. Setiap malam di depan televisi dekat pintu gerbang, beliau selalu menunggui kami pulang. Namun, selarut apa pun kami pulang, beliau tidak pernah marah atau menegur (dan itu yang membuat saya nyaman. hehehe, dasar badung saya-nya ya).


Saya tahu beliau tak pernah tidur lelap jika anak kost belum semua kembali ke indekos. Juga jika jumlah motor yang ada di halaman garasi belum lengkap seperti biasa: pasti ada anak kost yang belum pulang dan itu adalah saya (karena kali ini cuma saya yang bawa motor).


Hal yang pasti beliau lakukan adalah membukakan pintu gerbang. Namun, itu yang membuat saya tidak nyaman kadangkala. Saya tidak ingin merepotkan orang lain tapi kenyataannya saya yang paling sering merepotkan beliau untuk hanya sekedar membukakan pintu gerbang saat saya pulang. Saat beliau sudah tampak tertidur pun, jika beliau mendengar suara motor saya atau mendengar decit slot pintu gerbang yang dibuka pasti beliau akan segera terbangun dan menghampiri pintu gerbang. Saya merasa tidak enak sendiri telah mengganggu istirahat beliau.


Oleh sebab itu, kalau saya pulang malam, saya sering mematikan mesin motor beberapa meter sebelum sampai kosan (agar tidak berisik) lalu saya mengendap-endap membuka pintu gerbang. Tentunya bukan karena takut ketahuan pulang larut malam tetapi lebih karena saya tidak ingin mengganggu istirahat beliau. Jika saya "kepergok" sedang membuka pintu gerbang, kalimat yang beliau akan ucapkan adalah :

 "Sudah mba, nggak usah ditutup biar Bapak aja yang tutup lagi pintunya nanti"

Beliau mengatakan itu dengan mata merah karena baru terbangun dari tidur. Saya cuma meringis saja sambil minta maaf karena pulang malam. Hal itu juga yang terjadi malam tadi. Saya tertidur pukul 19.00 dan baru bangun jam 11.50. Lantas, saya yang memang suka lupa makan ini merasa lapar dan baru ingat kalau seharian saya baru makan sekali saja siang tadi (Ada ya, makan aja sampe lupa! Itu seloroh yang biasa dilontarkan teman-teman saya kalau saya lupa makan). Akhirnya tengah malam tadi saya minta ijin untuk keluar mencari nasi goreng. Pak Hasan sudah hendak tidur waktu saya pergi tapi beliau sengaja menunggui saya pulang dulu. Sekembalinya saya ke kos, kalimat yang sering beliau ucapkan pun terlontar.


"Ngga usah ditutup mba, biar Bapak saja nanti yang tutup". Tapi saya memang lebih sering tidak menghiraukan kalimat itu dan saya tetap menutup dan mengunci pintu gerbangnya lagi.


Hmmm, kalau dipikir-pikir si Bapak ini loyal sekali dengan pekerjaannya. Itu yang saya salutkan. Padahal, mungkin pekerjaan menjaga keamanan dan kebersihan indekos itu sering dipandang sebelah mata, tapi toh Bapak ini tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik. 

--***---

Kalau ditinjau lebih jauh lagi, sebenarnya pencapaian apa yang beliau inginkan dalam pekerjaannya ini ya? Pastinya beliau bukan mengharap kenaikan jabatan atau mengejar karir 'kan ya? Maksud saya, tidaklah sama pekerjaan beliau dengan para karyawan perusahaan atau pegawai negeri yang mengajukan promosi kenaikan pangkat dan golongan.


Atau mungkin beliau bekerja hanya untuk mengumpulkan sejumlah uang agar bisa menghidupi keluarganya? Ya ya ya, itu yang paling memungkinkan. Tapi keloyalan tidak semata-mata didasari oleh uang bukan?


Saya jadi teringat obrolan dengan Ibu Bos saya di kantor. Ketika itu beliau memilih topik tentang keprofesionalan dan etos kerja. Dalam nasihatnya, beliau mengatakan kurang lebihnya begini,


"....Mba Eska, kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita nantinya. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menjalankan apa yang ada dengan sebaik-baiknya karena kebaikan itu akan terus berulang di masa mendatang. Orang pintar itu banyak Mba, tapi orang yang bisa menjadi tumpuan hidup bagi orang lain itu sangatlah jarang. Jadilah orang yang tidak hanya sekedar pintar tapi juga bisa menjadi tumpuan bagi orang lain....".


Kemudian Ibu Bos saya ini mencontohkan beberapa orang yang sering membantu beliau.

"Lihat Pak X, dia tidak punya jabatan struktural atau fungsional apapun tapi selalu ada saja hal yang dia kerjakan. Dia akan membantu siapapun dan melaksanakan apapun yang diperintahkan. Mulai dari pesan tiket pesawat, fotokopi dokumen, pesan makanan, dan apapun yang jujur saja kadang saya tidak bisa melakukannya seorang diri. Saya butuh dia untuk menjadi tumpuan saya dalam hal-hal tertentu."

--***---

Saya sedikit menebak-nebak alasan di balik keloyalan penjaga kosan saya. Beliau pastinya memaknai sebuah pekerjaan bukan dengan sekedar uang, tapi lebih jauh daripada itu. Mungkin beliau menganggap pekerjaannya adalah sebuah tanggung jawab, ibadah, atau sebuah amanah yang memang harus beliau laksanakan dengan  sebaik-baiknya. Apapun alasannya itu, yang jelas beliau sudah menjadi tumpuan hidup bagi orang lain, termasuk saya...


Memang sangat kontras dengan keadaan yang sering kita lihat di mana sebagian orang begitu menggilai jabatan dan mengejar uang, uang, dan lagi-lagi uang. Padahal kewajiban dan urusan pekerjaan belum tentu beres.

Segalanya keperluan hidup memang membutuhkan uang. Namun, uang bukan segala-galanya. Hidup itu bukan sekedar mencari uang, bukan?


Repost: (from my previous blog), 2012

"Friendship"




Saya lupa dari mana dan bagaimana awal terbentuknya grup “Friendship” ini. Saya juga tidak ingat kapan tahun tercetusnya grup ini. Dulu saya hanya berniat mengumpulkan teman-teman saya dalam satu wadah agar kami bisa saling berbagi info, bertegur sapa, bertukar kabar, dan bermacam hal yang bisa kami lakukan layaknya hubungan akrab sebuah pertemanan. Secara pribadi, saya sendiri memang pernah memiliki kedekatan personal dengan masing-masing mereka, baik saat SMP, SMA, maupun kuliah. 

Saya menyatukan mereka hanya karena saya tidak ingin “kehilangan” mereka. Pada dasarnya saya sendiri tidak terlalu pandai me-maintain sebuah hubungan jika kami sudah terpisah jarak. Misalnya, saya tidak akan mengirim SMS atau menelpon terlebih dulu jika tidak ada keperluan atau jika tidak sedang merasa sangat kangen. Parahnya lagi, saya jarang sekali merasa kangen. Hehehe. Jadi sebenarnya saya gampang sekali “lepas” dan “hilang”. Oleh karena itu, tujuan membuat grup “Friendship” juga agar saya merasa terikat dengan teman-teman saya. 

Egoisnya saya, dulu saya lupa menanyakan apakah masing-masing dari mereka merasa nyaman untuk dikumpulkan dalam satu forum dan berkomunikasi satu dengan lainnya. Saya dekat dengan masing-masing mereka, tapi belum tentu antarmereka juga bisa merasa dekat kan?? Yang saya peduli, ketika saya sedang ingin berbagi, mereka semuanya ada. Mungkin ada benarnya, awal group ini terbentuk karena keegoisan saya. Saya mengakuinya. 

Namun, yang menakjubkan, kami masih eksis berdiskusi hingga saat ini. Dari teori komunikasi yang pernah saya dengar, kedekatan dan keakraban itu bisa terjadi jika ada kesamaan latar belakang, hobi, prinsip dll antara satu orang dengan lainnya. Mungkin kami bisa akrab karena kami berasal dari kota kecil yang sama dan pernah bersekolah di tempat yang sama. Sesederhana itu ya awal sebuah keakraban. 

Setiap hari kami bertemu di dunia maya karena keberadaan kami saat ini tidak hanya sekedar lintas kota ataupun provinsi, tetapi juga lintas negara/benua. Kami baru bisa kopi darat sesekali dalam setahun, kalau beruntung bisa dua kali, itupun tidak selalu full team. Walaupun begitu, kami selalu menikmati setiap moment kebersamaan yang ada. Tentunya kemajuan teknologi sangat berperan dalam mengakrabkan hubungan kami.

Apa saja yang kami obrolkan setiap hari?
Banyak hal! Dari mulai hal remeh temeh tidak penting, hingga diskusi urusan pekerjaan, kesehatan, masa depan, bahkan terkadang kami ikut memikirkan urusan negara ini. Saya merasa grup ini seperti “tempat sampah”, segala macam yang ingin “dibuang” ya tinggal dibuang saja. Haha.. Bayangkan saja, jika hanya ingin bilang “Lapar, Ngantuk, atau Stress” sepertinya annoying jika di-share di media sosial semacam FB atau twitter. Alih-alih update status yang tidak penting semacam itu, mendingan share saja di grup Friendship. 

Akrab itu tidak harus selalu menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi. Rasanya sangat jarang kami berbagi hal-hal yang menjadi privasi kami masing-masing. Gosip-gosip pun tidak banyak terjadi, kami tidak suka gosip. Okay, mungkin benar adanya kami terdiri dari 9 laki-laki dan 4 perempuan yang artinya akan sedikit gosip beredar karena dominan laki-laki. Tapi secara alamiah, kami akan segera memadamkan api gosip yang terpercik. Kami akan mencoba memberikan hal positif pada pikiran-pikiran beraura negatif, saling mendukung, mengirim semangat dan motivasi, menepuk pundak dari jarak jauh, atau sedikit “menjewer” jika dirasa ada yang salah.

Susah untuk diejawantahkan lebih jauh. Kami ini unik! Tidak ada ucapan “selamat ulang tahun” setiap tahunnya kepada seorangpun di grup ini. Entah ya mungkin karena kami tidak pernah menspesialkan hari lahir satu sama lain atau karena kami menganggap bahwa doa itu jauh lebih penting dari sekadar ucapan selamat? Tidak pula ada surprise. Tidak ada kalimat-kalimat bernada sentimentil seperti “semoga persahabatan kita langgeng, aku sayang kalian, etc, etc, etc”. Mentok-mentoknya hanya lontaran kalimat “Aku seneng bisa kenal kalian”, itu saja…. dan itupun sangat jarang terjadi. Hahahahaha…. Sungguh tidak romantis ya!

Kami terlalu simple dalam memaknai dan menjalin hubungan ini. Tidak bertele-tele, tidak menuntut, tidak ambil pusing, tidak sentimentil, tidak romantis. Kami mencoba berproses menjadi semakin baik, tumbuh dewasa di lingkungan dan profesi masing-masing, saling membantu, saling mengingatkan dalam kebaikan, berkomunikasi dengan santun dan beretika. Semuanya mengalir begitu saja….

Pada akhirnya, saya selalu membayangkan… pada suatu waktu nanti, mungkin sepuluh, dua puluh, atau berapa puluh tahun nanti. Ketika keberadaan saya entah di mana dan mereka ada di mana, saya berharap Allah selalu menyayangi dan menyatukan kami dalam kebaikan, serta menuntun kami dalam berproses menjadi insan yang lebih baik setiap waktunya. Aamiin….

Saturday, 28 September 2013

Isi Surat Itu.....



Malam itu saya mendapati sebuah email dari dosen pembimbing skripsi saya, dr H. Engkus Kusdinar Achmad, MPH. Ada sepercik rasa haru dan senang, beliau masih saja memberi kalimat-kalimat yang begitu memotivasi, menasihati, dan mendoakan. Beliau adalah seorang Bapak yang sangat baik, bijaksana, mengayomi, dan disiplin waktu. Yang khas dari beliau yaitu beliau selalu menyegerakan salat dan terburu-buru beranjak ke Mushola saat mendengar gema adzan. Tak jarang beliau meninggalkan saya saat kami sedang konsultasi di ruangannya. 

Beliau juga satu-satunya dosen yang selalu menerapkan peraturan di dalam kelas: bagi siapa saja yang datang terlambat masuk kelasnya, wajib bayar Rp 5000. Sedangkan jika beliau sendiri yang terlambat datang, beliau akan membayar dua kali lipatnya. Dan itu benar-benar terjadi! Di akhir semester, sang ketua kelas mengakumulasi rupiah-rupiah hasil keterlambatan para mahasiswa dan Bapak dosen tersebut.

Beliau juga selalu membuat kelas terasa lebih "hidup". Hal yang ditekankan beliau setiap mengajar adalah adanya dinamika kelas dimana mahasiswa yang aktif akan mendapat tambahan poin nilai. Beliau akan menegur secara halus mahasiswanya yang tampak menguap atau sedang terlelap pulas..  


"Coba Ica, kira-kira pendapat kamu bagaimana tentang penjelasan temanmu tadi?" (begitulah tegurannya kalau sedang memergoki saya mengantuk di kelas, hehehe. Ica adalah panggilan kesayangan beliau pada saya.)

Agaknya perjumpaan saya dengan beliau menjadi kisah tersendiri, dimana beliau adalah seseorang pertama yang membuat saya sanggup menjalani dan menyelesaikan study saya di kampus. Bapak dengan 8 orang putra-putri tersebut mampu membagikan inspirasinya pada saya hingga pada akhirnya hubungan kami tidak hanya sebatas obrolan tentang kuliah dan skripsi, tetapi juga tentang sebuah cita-cita, perjalanan hidup, pengalaman, dan tujuan dari hidup. Segala apa yang saya ceritakan, beliau punya solusinya.

Alhamdulillah, sangat beruntung rasanya bisa mengenal beliau. Beberapa teman sempat berterus terang merasa iri pada
saya karena saya mendapat beliau sebagai pembimbing, maklumlah Bapak berjenggot putih dan berpeci itu memang menjadi dosen favorit di kampus saya. Sorot matanya yang meneduhkan dan gaya bicaranya yang selalu tenang membawa arti tersendiri di setiap kehadirannya.

Berikut ini balasan email dari beliau, saat
saya meminta beliau untuk menjadi pemberi referensi dalam sebuah urusan.




Thursday, November 24, 2011 11:14 AM
Wa"alaikumussalam Wr.Wb. 
Alhamdulillah, Ica. Saya dan keluarga sehat walafiat. Saya baru pulang haji malam minggu yang lalu setelah meninggalkan tanah air 25 hari. Sepulangnya dari sana rasanya lahir batin lebih sehat. Semoga demikian juga keadaannya dengan Ica dan keluarga besar Ica di kampung halaman.
Saya sangat senang Ica sudah mulai dapat menerapkan ilmu dan pengalaman belajar dimasa lalu sewaktu kuliah dulu dalam kehidupan di dunia nyata. Walaupun mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan, bidang garapan dan tempat mengabdikan ilmu sekarang,  anggaplah itu sebagai  pelajaran tambahan untuk mematangkan proses pembelajaran dulu. Pada hakikatnya memang, kita tidak pernah berhenti belajar. Modal untuk bekerja sekarang 30% diantaranya dari hasil belajar dulu, namun sisanya yang lebih besar justru diperoleh dari tempat pekerjaan sekarang dan di masa datang.
Mengenai pengambilan nama saya untuk keperluan referensi, buat saya tidak ada masalah. Silahkan saja. Malah saya senang karena saya masih bisa memberikan manfaat kepada Ica sekalipun Ica sudah tidak menjadi bimbingan saya lagi. Terus terang, seringkali saya menyebut nama Ica di kelas sebagai mahasiswa bimbingan saya yang berprestasi. Mudah-mudahan sebutan tersebut akan memberi tambahan motivasi kepada adik-adik kelas Ica di FKMUI.
Semoga Ica selalu dapat menampilkan yang terbaik dalam pekerjaan dan hidup ini. Selalu diingat bahwa kita hidup di dunia sekedar singgah sebentar saja. Tujuan hidup kita ada di seberang itu . . . yang kekal, akhirat. Selalu minta doa restu kepada kedua orang tua dan jadikan diri Ica kebanggaan mereka berdua. 

Sukses selalu, ya. . 
Salam,
Pak Kus



***
BAPAK KUSDINAR, SELAMAT HARI GURU Yaaaaa ^^ 


Repost: November 25, 2011 (from my previous blog)