Sebut saja
namanya Pak Hasan. Beliau seorang yang berjasa menjaga keamanan indekos tempat saya
tinggal. Beliau juga yang selalu menjamin kebersihan di tiap sudut ruangan indekos saya. Sudah
seperti bapak yang
menjaga anak-anak kost dan memenuhi keperluan kami (saya dan teman-teman_red),
terutama untuk keperluan yang tidak bisa kami tangani sendiri: genteng bocor,
memasang pipa gas ke kompor, membetulkan keran air, mengangkat galon air
mineral ke lantai atas, mengganti lampu yang mati, dan pekerjaan lainnya (kalau di rumah, saya selalu mengandalkan ayah saya mengerjakan hal-hal tersebut)
Sama seperti
arti namanya, beliau sangat baik. Bahkan terlampau baik. Saya dan teman-teman saja yang agak badung. Kadang kami pulang larut
malam untuk alasan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, atau hanya sekedar
bermain-main. Setiap malam di depan
televisi dekat pintu gerbang, beliau selalu menunggui kami pulang.
Namun, selarut apa pun kami pulang, beliau tidak pernah marah atau menegur (dan
itu yang membuat saya nyaman. hehehe, dasar badung saya-nya ya).
Saya tahu
beliau tak pernah tidur lelap jika anak kost belum semua kembali ke indekos. Juga jika
jumlah motor yang ada di halaman garasi belum lengkap seperti biasa: pasti ada
anak kost yang belum
pulang dan itu adalah saya (karena kali ini cuma saya yang bawa motor).
Hal yang
pasti beliau lakukan adalah membukakan pintu gerbang. Namun, itu yang membuat
saya tidak nyaman kadangkala. Saya tidak ingin merepotkan orang lain tapi
kenyataannya saya yang paling sering merepotkan beliau untuk hanya sekedar
membukakan pintu gerbang saat saya pulang. Saat beliau sudah tampak tertidur
pun, jika beliau mendengar suara motor saya atau mendengar decit slot pintu
gerbang yang dibuka pasti beliau akan segera terbangun dan menghampiri pintu
gerbang. Saya merasa tidak enak sendiri telah mengganggu istirahat beliau.
Oleh sebab
itu, kalau saya pulang malam, saya sering mematikan mesin motor beberapa meter
sebelum sampai kosan (agar tidak berisik) lalu saya mengendap-endap membuka
pintu gerbang. Tentunya bukan karena takut ketahuan pulang larut malam tetapi
lebih karena saya tidak ingin mengganggu istirahat beliau. Jika saya
"kepergok" sedang membuka pintu gerbang, kalimat yang beliau akan
ucapkan adalah :
"Sudah
mba, nggak usah
ditutup biar Bapak aja yang tutup lagi pintunya nanti".
Beliau
mengatakan itu dengan mata merah karena baru terbangun dari tidur. Saya cuma
meringis saja sambil minta maaf karena pulang malam. Hal itu juga yang terjadi malam
tadi. Saya tertidur pukul 19.00 dan baru bangun jam 11.50. Lantas, saya yang memang
suka lupa makan ini merasa lapar dan baru ingat kalau seharian saya
baru makan sekali saja siang tadi (Ada ya, makan aja sampe lupa! Itu seloroh yang biasa dilontarkan
teman-teman saya kalau saya lupa makan). Akhirnya tengah malam tadi saya minta
ijin untuk keluar mencari nasi goreng. Pak Hasan sudah hendak tidur waktu saya
pergi tapi beliau sengaja menunggui saya pulang dulu. Sekembalinya saya ke kos,
kalimat yang sering beliau ucapkan pun terlontar.
"Ngga
usah ditutup mba, biar Bapak saja nanti yang tutup". Tapi saya memang lebih sering
tidak menghiraukan kalimat itu dan saya tetap menutup dan mengunci pintu
gerbangnya lagi.
Hmmm, kalau dipikir-pikir si Bapak ini
loyal sekali dengan pekerjaannya. Itu yang saya salutkan. Padahal, mungkin
pekerjaan menjaga keamanan dan kebersihan indekos itu sering dipandang sebelah mata,
tapi toh Bapak ini tetap menjalankan
pekerjaannya dengan baik.
--***---
Kalau
ditinjau lebih jauh lagi, sebenarnya pencapaian apa yang beliau inginkan dalam
pekerjaannya ini ya? Pastinya beliau bukan mengharap kenaikan jabatan atau
mengejar karir 'kan ya? Maksud saya, tidaklah sama pekerjaan beliau
dengan para karyawan perusahaan atau pegawai negeri yang mengajukan promosi kenaikan pangkat dan
golongan.
Atau mungkin
beliau bekerja hanya untuk mengumpulkan sejumlah uang agar bisa menghidupi
keluarganya? Ya ya ya, itu yang paling memungkinkan. Tapi keloyalan tidak
semata-mata didasari oleh uang bukan?
Saya jadi
teringat obrolan dengan Ibu Bos saya di kantor. Ketika itu beliau memilih topik tentang
keprofesionalan dan etos kerja. Dalam nasihatnya, beliau mengatakan kurang
lebihnya begini,
"....Mba Eska, kita nggak
akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita nantinya. Yang perlu
dilakukan saat ini adalah menjalankan apa yang ada dengan sebaik-baiknya karena
kebaikan itu akan terus berulang di masa mendatang. Orang pintar itu banyak
Mba, tapi orang yang bisa menjadi tumpuan hidup bagi orang lain itu sangatlah
jarang. Jadilah orang yang tidak hanya sekedar pintar tapi juga bisa menjadi
tumpuan bagi orang lain....".
Kemudian Ibu Bos saya ini
mencontohkan beberapa orang yang sering membantu beliau.
"Lihat
Pak X, dia tidak punya jabatan struktural atau fungsional apapun tapi selalu
ada saja hal yang dia kerjakan. Dia akan membantu siapapun dan melaksanakan
apapun yang diperintahkan. Mulai dari pesan tiket pesawat, fotokopi
dokumen, pesan makanan, dan apapun yang jujur saja kadang saya tidak
bisa melakukannya seorang diri. Saya butuh dia untuk menjadi tumpuan saya dalam
hal-hal tertentu."
--***---
Saya sedikit menebak-nebak alasan di balik
keloyalan penjaga kosan saya. Beliau pastinya memaknai sebuah pekerjaan bukan dengan
sekedar uang, tapi lebih jauh daripada itu. Mungkin beliau menganggap
pekerjaannya adalah sebuah tanggung jawab, ibadah, atau sebuah amanah yang memang harus
beliau laksanakan dengan sebaik-baiknya. Apapun alasannya itu, yang jelas
beliau sudah menjadi tumpuan hidup bagi orang lain, termasuk saya...
Memang
sangat kontras dengan keadaan yang sering kita lihat di mana sebagian orang begitu menggilai jabatan dan
mengejar uang, uang, dan lagi-lagi uang. Padahal
kewajiban dan urusan pekerjaan belum tentu beres.
Segalanya keperluan hidup memang
membutuhkan uang. Namun, uang bukan segala-galanya. Hidup itu bukan sekedar mencari uang, bukan?
Repost: (from my previous blog), 2012
No comments:
Post a Comment