Monday, 16 September 2013

Menulis daripada Mati

Inspirasi untuk menulis datang seketika setelah saya mengikuti Kelas Inspirasi di Bogor, 11 September lalu. Tim satu kelompok saya, Mba Prita, wanita hebat yang baru saya kenal ini bercerita tentang kelas yang baru saja beliau datangi. Penulis yang juga seorang ibu dari 2 anak ini mengajak murid-murid di kelasnya untuk menulis, salah satu topik tulisannya adalah hal yang paling mengecewakan atau menyedihkan yang pernah dirasakan.

Mba Prita meminta salah seorang murid maju untuk membacakan isi tulisannya. Di tengah-tengah membaca tulisannya sendiri, murid itu menangis. Mba Prita lantas memeluknya dan menenangkannya. Menurut penjelasan yang kami (saya dan rekan-rekan relawan guru lainnya_red) dengar dari Mba Prita, murid tersebut tengah memendam sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun. Kurang lebihnya, murid tersebut menulis tentang perlakuan orangtuanya di rumah yang selalu menyalahkanya dan ia merasa sangat sangat sedih!

Mba Prita dan salah satu muridnya
Begitulah, menulis menjadi sebuah proses katarsis....
Menurut JS Badudu, Katarsis adalah metode psikologi (psikoterapi) yang menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkan menceritakan semuanya.

Thanks Mba Prita for inspiring me...
Ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun lalu ketika saya sudah mulai mempraktikkan proses katarsis itu sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya rajin menulis di buku diary, tidak rutin, tapi selalu dan hampir pasti saya menulis saat saya menghadapi masalah. Ketika orangtua tidak bisa diajak berbagi, ketika teman-temanbisa menjadi sahabat baik, ketika saya merasa dunia menjauh dan saya seorang sendiri menghadapi segala permasalahan..... saat itulah saya akan menulis. Kebiasaan itu pun berlanjut hingga saya SMA. Bagi sebagian orang mungkin berpikir bahwa menulis diary adalah sesuatu yang sangat melankolis. Tapi tidak bagi saya.

Menulis bagi saya adalah pengungkapan emosi dan terapi kejiwaan. Pena di jemari saya akan menari-nari liar seirama dengan beban dan emosi yang saya tuangkan. Tidak sekali, dua kali saya menangis ketika saya menulis. Jadi, sebenarnya saya memahami kenapa dan bagaimana murid Mba Prita menangis saat membaca tulisannya sendiri. 

Saya akan terus menulis sampai saya bosan dan sampai saya menemukan kedamaian batin. Saat saya sudah merasa lega, saya berhenti menulis. Jika saya ingin, saya akan membaca tulisan saya sekali setelah saya selesai menulisnya. Tetapi lebih sering saya langsung menutup buku dan tidak ingin membacanya sekalipun! Karena bisa jadi terlalu menyakitkan jika saya harus membaca ungkapan emosionil saya. Ibaratnya, seperti mengulang kesakitan secara disengaja. Kemudian saya akan simpan rapih buku harian saya di tempat yang ---menurut saya--- aman, hanya saya dan tuhan yang tahu. 

Semakin beranjak dewasa, saya melakukan proses katarsis hanya ketika saya sudah "kacau" dan tidak mampu lagi berbagi. Saya akan menumpahkannya di selembar kertas, bisa dua halaman atau lebih. Saya akan menulis tanpa henti selama 15-30 menit, tanpa peduli apa yang saya tulis, tanpa proses editing, tanpa berpikir tulisan saya sudah cukup baik atau belum. Setelah selesai menulis, saya akan langsung merobek dan membuang kertas-kertas tadi. Selama emosi sudah terungkapkan, lembaran kertas itu akan menjadi onggokan sampah.


Mencomot dari bio-nya Mba Theoresia Rumthe: "Menulislah dan Jangan Bunuh Diri" saya pun menganjurkan hal serupa:

Menulislah daripada Mati



No comments:

Post a Comment