Inspirasi
untuk menulis datang seketika setelah saya mengikuti Kelas Inspirasi di
Bogor, 11 September lalu. Tim satu kelompok saya, Mba Prita, wanita
hebat yang baru saya kenal ini bercerita tentang kelas yang baru saja
beliau datangi. Penulis yang juga seorang ibu dari 2 anak ini mengajak
murid-murid di kelasnya untuk menulis, salah satu topik tulisannya
adalah hal yang paling mengecewakan atau menyedihkan yang pernah
dirasakan.
Mba
Prita meminta salah seorang murid maju untuk membacakan isi tulisannya.
Di tengah-tengah membaca tulisannya sendiri, murid itu menangis. Mba
Prita lantas memeluknya dan menenangkannya. Menurut penjelasan yang kami
(saya dan rekan-rekan relawan guru lainnya_red) dengar dari Mba Prita,
murid tersebut tengah memendam sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan
kepada siapapun. Kurang lebihnya, murid tersebut menulis tentang
perlakuan orangtuanya di rumah yang selalu menyalahkanya dan ia merasa
sangat sangat sedih!
| Mba Prita dan salah satu muridnya |
Begitulah, menulis menjadi sebuah proses katarsis....
Menurut
JS Badudu, Katarsis adalah metode psikologi (psikoterapi) yang
menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan
traumatisnya dengan membiarkan menceritakan semuanya.
Thanks Mba Prita for inspiring me...
Ingatan
saya kembali ke beberapa belas tahun lalu ketika saya sudah mulai
mempraktikkan proses katarsis itu sejak saya duduk di bangku sekolah
dasar. Saya rajin menulis di buku diary, tidak rutin, tapi selalu
dan hampir pasti saya menulis saat saya menghadapi masalah. Ketika
orangtua tidak bisa diajak berbagi, ketika teman-temanbisa menjadi
sahabat baik, ketika saya merasa dunia menjauh dan saya seorang sendiri
menghadapi segala permasalahan..... saat itulah saya akan menulis.
Kebiasaan itu pun berlanjut hingga saya SMA. Bagi sebagian orang mungkin
berpikir bahwa menulis diary adalah sesuatu yang sangat melankolis. Tapi tidak bagi saya.
Menulis bagi saya adalah pengungkapan emosi dan terapi kejiwaan. Pena di jemari saya akan menari-nari liar seirama dengan beban dan emosi yang saya tuangkan. Tidak sekali, dua kali saya menangis ketika saya menulis. Jadi, sebenarnya saya memahami kenapa dan bagaimana murid Mba Prita menangis saat membaca tulisannya sendiri.
Saya
akan terus menulis sampai saya bosan dan sampai saya menemukan
kedamaian batin. Saat saya sudah merasa lega, saya berhenti menulis.
Jika saya ingin, saya akan membaca tulisan saya sekali setelah saya
selesai menulisnya. Tetapi lebih sering saya langsung menutup buku dan
tidak ingin membacanya sekalipun! Karena bisa jadi terlalu menyakitkan
jika saya harus membaca ungkapan emosionil saya. Ibaratnya, seperti
mengulang kesakitan secara disengaja. Kemudian saya akan simpan rapih
buku harian saya di tempat yang ---menurut saya--- aman, hanya saya dan
tuhan yang tahu.
Semakin
beranjak dewasa, saya melakukan proses katarsis hanya ketika saya sudah
"kacau" dan tidak mampu lagi berbagi. Saya akan menumpahkannya di
selembar kertas, bisa dua halaman atau lebih. Saya akan menulis tanpa
henti selama 15-30 menit, tanpa peduli apa yang saya tulis, tanpa proses
editing, tanpa berpikir tulisan saya sudah cukup baik atau belum.
Setelah selesai menulis, saya akan langsung merobek dan membuang
kertas-kertas tadi. Selama emosi sudah terungkapkan, lembaran kertas itu
akan menjadi onggokan sampah.
Mencomot dari bio-nya Mba Theoresia Rumthe: "Menulislah dan Jangan Bunuh Diri" saya pun menganjurkan hal serupa:
Menulislah daripada Mati
No comments:
Post a Comment