Sekilas mereka seperti orang-orang pada umumnya. Sebuah keluarga
kecil: sepasang suami-istri yang sedang mengajak putrinya berlibur. Ya, ini
memang masa-masa liburan anak sekolah pascapenerimaan raport. Saya
memperhatikan mereka yang sedang sibuk berbagi tempat duduk di kereta ini.
Tempat duduknya memang untuk jatah dua orang saja
dan gadis kecil (yang menurut perkiraan saya
adalah putri mereka) dipangku ibunya. Namun, rupanya gadis
itu ingin
merasakan duduk sendiri tanpa dipangku ibunya.
Lama kelamaan saya menyadari sesuatu. Sepasang suami-istri di hadapan
saya adalah
penyandang tunawicara. Sedari tadi mereka berdua berkomunikasi dengan isyarat
tangan dan bahasa nonverbal yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Agaknya saya
mengalami dejavu, saya teringat beberapa bulan silam
saat saya menjalani praktikum kesehatan
masyarakat di
satu kelurahan. Saat itu saya berkunjung ke sebuah posyandu.
---***---
Di
Posyandu…
Siang itu datang seorang ibu muda yang cantik, dia menggandeng
anaknya yang masih balita, tak kalah cantiknya. Saat ibu dan anak itu mendekat
ke meja posyandu dan berbicara dengan salah satu kader
posyandu,
barulah saya sadar kalau ibu cantik itu tidak bisa bicara. Anaknya pun tampak
diam saja. Sesaat setelah anaknya ditimbang dan diukur tinggi badannya, ibu dan
anak itu pamit pulang.
Tak lama kemudian, ibu-ibu kader mulai berceloteh (seperti
ibu-ibu pada umumnya yang senang berbicara). Sebenarnya saya agak risih, tapi
karena saya ada di situ mau tidak mau saya mendengar percakapan mereka.
"Kesian bener dia, cantik-cantik tapi gagu" seloroh seorang
ibu kader.
"Anaknya daritadi diem aja, bisa ngomong nggak sih dia?
Jangan-jangan gagu juga" timpal ibu lainnya.
"Dia dari RT mana? Coba biar gue nanti bilang ke lakinya
biar ngajarin anaknya ngomong. Kesian juga lho, anaknya
udah
4 tahun tapi belum bisa ngomong" semakin seru saja celotehan ibu-ibu ini.
"Eh setau gue, lakinya juga gagu, jadi wajar aja anaknya
kalo belum bisa ngomong..." sahut lainnya.
Saya hanya menyimak percakapan mereka. Lalu saya berpikir,
keluarga kan madrasah pertama bagi seorang anak dan seorang ibu adalah
guru pertamanya. Bahasa pertama yang dipelajari
seorang
anak adalah bahasa ibunya. Jika ibunya tidak bisa bicara, paling tidak masih ada ayah yang akan mengajari anaknya mengucap kata. Tapi
kalau ayahnya pun tidak bisa bicara sedangkan anak itu hanya tinggal bersama
ayah dan ibunya saja??? Ooh sungguh saya tidak habis pikir bagaimana anak itu
nantinya bisa berkomunikasi.
---***---
Kereta malam
terus melaju. Sudah hampir setengah perjalanan kereta membawa saya meninggalkan
kota kelahiran di Jawa Tengah menuju ke ibu kota negara. Di kereta itu saya duduk
sebangku dengan Via, seorang anak perempuan kelas 6 SD. Via adalah adik teman saya, Mas Okky. Mas Okky menitipkan Via pada saya agar Via ada teman perjalanan ke Jakarta. Via akan menghabiskan liburan di
kontrakan kakaknya di daerah Jakarta Timur. Kebetulan Mas Okky dan istrinya sudah lebih dulu berangkat ke Jakarta.
Baru
malam itu saya
berkenalan dengan Via. Dia anak yang cantik, sedikit
tomboy, asyik,
lincah, dan rasa ingin tahu-nya
tinggi.
Kami pun langsung akrab malam itu. Sepanjang perkenalan, Via banyak bercerita
dan menanyakan banyak hal
pada saya. Sepertinya dia ingin lebih mengenali teman seperjalanannya ini :D
Agaknya saya menyadari kalau sedari tadi Via memperhatikan
keluarga kecil yang duduk di hadapan kami ini. Saya salut karena Via sama
sekali tidak banyak bertanya atau berbisik mengenai "kelainan" pada
pasangan suami-istri itu. Rupanya Via cukup dewasa untuk bisa menjaga perasaan
orang lain.
Tatapan mata Via beradu dengan si gadis kecil (yang pada
akhirnya gadis itu kembali duduk dipangku oleh ibunya). Gadis kecil
itu terlihat lesu, mungkin mengantuk atau kedinginan. Entahlah. Untuk
mencairkan suasana (dan utamanya mengobati rasa penasaran saya tentang apakah si gadis ini bisa bicara atau tidak), saya pun memulai
pembicaraan.
"Adek namanya siapa?" Tanya
saya sambil tersenyum pada si gadis kecil yang tampak menyandarkan kepala di
atas kedua tangannya di meja kereta. Sejenak hening, saya
jadi salah tingkah. Saya khawatir gadis ini juga tidak bisa bicara seperti kedua orangtuanya dan saya akan merasa sangat bersalah karena telah mencoba mengajaknya bicara. Saya takut menyinggung perasaannya dan juga kedua
orangtuanya. Benar-benar hening...... #semakin salah
tingkah.
"Andien..." kata gadis itu lirih...(Horray…..!!!
Akhirnya
terdengar jawaban dari mulut mungilnya. Hatiku bersorak, gadis ini ternyata bisa
bicara).
"Namanya Andien, mbaaak" tegas Via pada saya
(ternyata dari tadi Via menyaksikan
“adegan” tanya-jawab saya dengan si gadis kecil itu. Saya menebak kalau Via
juga ingin
tahu apakah gadis itu bisa bicara atau tidak)
"Ehh, ooh Andien kelas berapa?" tanya saya
lagi, agak gugup. :)
"Satu" , jawab Andien.
"Sekolahnya dimana?" tanya
saya semakin
bersemangat.
"MIN Tanuraksan" jawabnya lagi (semakin meyakinkan saya
bahwa gadis ini “normal”).
Kali ini, Via berbisik pada saya untuk pertanyaan ingin tahunya:
"Mba, MIN itu apa sih mba??"
"Madrasah Ibtidaiyah Negeri, sama kayak SD tapi disana dia
lebih banyak pelajaran agamanya" jelas saya padanya.
Kedua
orang tua
Andien sedari tadi hanya memperhatikan
pembicaraan antara saya dengan Andien. Awalnya
mereka terdiam (mungkin merasa aneh) saat saya memulai membuka obrolan dengan
putrinya. Namun, akhirnya sesekali mereka ikut menimpali dengan riang. Tetap
dengan bahasa isyarat tentunya. Saya kurang mengerti dengan bahasa
mereka. Tapi dari apa yang saya tangkap, mereka bercerita pada saya
kalau Andien baru kelas 1 SD. Andien anak yang
pintar. Mereka kini akan berlibur ke Tangerang. Ayah Andien orang Jakarta,
sedangkan Ibunya orang Jawa Tengah (kurang lebihnya itulah yang bisa saya
pahami dari suara dan bahasa tubuh mereka). Saya pun tersenyum dan
berangguk-angguk tanda mengerti (walaupun sebenarnya saya hanya berlagak mengerti). Orang tua Andien senang bercerita, terlihat dari cara mereka “berbicara”
pada saya dengan riang.
Setelah itu, diam-diam saya tertarik untuk memperhatikan
komunikasi antara suami-istri penyandang tunawicara itu. Saya berharap bisa
menebak-nebak isi pembicaraan dalam bahasa mereka tetapi saya
tetap tak bisa mengerti, kecuali jika mereka menggunakan bahasa tubuh yang
sekali dua kali mereka lakukan. Saya kembali menatap Andien dan bertanya-tanya dalam hati
bagaimana kedua orangtua ini mengajarkan bicara pada si putri kecilnya itu.
Atau mungkin ada orang lain yang mengajarkannya? Siapa pun yang mengajarkan
itu, saya turut senang karena
si kecil Andien bisa berkomunikasi dengan baik. Andien masih punya masa depan
yang panjang dan dia bisa mengejar cita-citanya.
Sesekali kulihat suami-istri itu becanda, tentunya dengan bahasa
yang dipahami oleh mereka berdua saja. Mereka tertawa lepas seolah
tidak ada beban hidup yang ditanggungnya. Saya takjub melihat pemandangan itu,
terlebih lagi mereka murah senyum dan tidak rendah diri. Malahan, mereka akan
menanggapi dengan semangat saat saya mengajaknya mengobrol.
Bukankah hidup itu indah jika kita selalu bersyukur? Pasangan
suami-istri itu telah menyadarkan saya bahwa dalam kekurangan
pun, mereka tetap bisa menjalani hidup dengan baik seperti orang-orang pada
umumnya. Mereka memang tidak sempurna dalam berbicara, tetapi bukannya Allah
selalu bisa mendengar doa-doa dan keluhan hamba-Nya dalam frekuensi suara
berapapun?
---***---
PS:
Kalau
saya membandingkan kondisi jaman sekarang, sangat disayangkan sekali kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Remaja lelaki dan perempuan yang mengaku "gaul" berbicara tanpa etika.
Pengemudi yang terjebak di macetnya jalanan ibu kota sering kelepasan mengeluarkan kata-kata umpatan. Nikmat berbicara yang mereka miliki malah disalahgunakan untuk mengumpat,
berkata tidak baik, menggunjing, dan hal-hal tidak patut ditiru lainnya.
Andaikan mereka mau melihat orang-orang seperti pasangan suami-istri tunawicara
itu dan mereka mau bersyukur dengan cara menggunakan lisan mereka hanya untuk
berkata-kata baik.
Aah,
ini pun jadi satu pelajaran penting bagi saya sendiri, sebagai koreksi apakah
saya sudah memilih kata-kata baik dalam setiap perkataan….
Repost: December 21, 2011 (from my previous blog)
No comments:
Post a Comment