Apa itu bahagia?
Setiap orang punya definisi
sendiri, bisa jadi berbeda
satu sama lain dalam memaknai kebahagiaan. Yang pasti, Tuhan itu Mahaadil
sehingga setiap hamba-Nya akan diberi kesempatan untuk merasakan bahagia.
Pernah sesekali terpikir, jika si kaya dan si miskin sama-sama bisa merasakan kebahagiaan, lalu di manakah letak kebahagiaan itu sehingga semua orang bisa mencapainya?
Seseorang kaya raya, bergelimang harta, hidup penuh kemewahan dan tanpa kekurangan suatu
apapun. Itukah gambaran seseorang yang berbahagia?
Jika demikian, di mana letak “keadilan” makna bahagia untuk fakir miskin, tunawisma macam “manusia gerobak” (seseorang yang
menjadikan gerobak dorong sebagai rumahnya dan hidupnya selalu berpindah dari
satu tempat ke tempat lainnya), serta yatim piatu yang ditelantarkan orangtuanya? Jangankan
memikirkan harta, bisa mendapati perut kenyang dan tidur
nyenyak dalam sehari saja mereka sudah bisa bahagia koq. Baiklah, Tuhan
memang adil dalam memberi kebahagiaan. Setiap manusia diberi arti bahagia
dengan caranya sendiri. Namun, saya masih saja bertanya-tanya:
Apakah
bahagia itu bisa diukur?
Apakah tolok ukur bahagia itu?
Apakah
bahagia memiliki level atau skala?
Jika
seseorang dikatakan bahagia, indikator apa
yang
bisa digunakan sebagai determinan kebahagiaannya?
Andai
saja bahagia itu memang memiliki skala, misalkan diberi antara 1-10. Di mana cut
off point kebahagiaan untuk si kaya dan si miskin? Sama atau berbeda kah? Jika berbeda, berarti
Tuhan tidak adil ya? --> Pertanyaan ini sudah sangat lama singgah di otak
saya yang sedang ingin kritis ini.
Tanyalah pada petani, mungkin mereka bahagia ketika
hasil panen melimpah ruah dengan kualitas baik. Jika bertanya pada mahasiswa,
mungkin bahagianya mereka saat IP meningkat drastis dan uang saku bulanan tercukupi.
Berbeda lagi dengan pesepak bola, mereka sangat bahagia saat kesebelasan
tim mampu memeangkan
pertandingan dan bermain
baik.
Satu contoh lagi, bahagia untuk pasangan suami-istri adalah ketika buah hati
mereka telah lahir.
Kesimpulan dari kerumitan cara berpikir saya yaitu dalam
mencapai makna kebahagiaan, setiap orang berada pada kondisi tertentu yang
berbeda satu sama lain. Bahagia itu tidak berskala, tidak berlevel, dan tidak
terukur. Namun, bahagia itu memiliki tolok ukur yaitu pada rasa syukur dari
masing-masing individu.
Siapapun orangnya, apapun pekerjaannya,
bagaimanapun keadaannya, di manapun ia berada… letak kebahagiaan tetap pada
rasa syukurnya pada
Tuhan. Pada kenyataannya, ada suatu kondisi sebuah keluarga sederhana dengan
rumah bilik-bilik bambu reot lebih berbahagia dibandingkan keluarga konglomerat
yang setiap hari sibuk berburu
dan menjaga hartanya.
Hal itu bisa terjadi jika keluarga sederhana selalu mensyukuri
apapun nikmat yang telah mereka
peroleh,
sekecil apapun nikmat tersebut. Lain halnya dengan keluarga konglomerat. Jika mereka tak pernah puas dengan apa
yang telah dicapainya, mereka telanjur lupa untuk bersyukur atas segudang
nikmat yang diberi-Nya.
Ternyata,
bahagia itu sederhana, bukan? Sesederhana rasa syukurmu terhadap segala nikmat
yang diberi-Nya ^^
NOTE:
Bahagia itu tak berskala. Kata seorang kawan, jika bahagia diberi skala itu akan sangatlah panjang deretan angka-angka yang berjejer.
Bahagia itu relatif. Bahkan untuk setiap orang, definisi bahagia bisa berubah dari waktu ke waktu.
NOTE:
Bahagia itu tak berskala. Kata seorang kawan, jika bahagia diberi skala itu akan sangatlah panjang deretan angka-angka yang berjejer.
Bahagia itu relatif. Bahkan untuk setiap orang, definisi bahagia bisa berubah dari waktu ke waktu.
Repost: January 10, 2012 (from my previous blog)
No comments:
Post a Comment